Kamis, 26 September 2013

Tugas Kuliah Pertamaku :) "Konsep-Konsep Ilmu Sejarah"

KONSEP-KONSEP ILMU SEJARAH
           
            Biasanya kita merasa sudah mengerti penggunaan kata sejarah. Apa yang sudah terjadi, semuanya kita anggap sebagai sejarah. Padahal apa yang sudah terjadi atau sejarah itu dua macam, yaitu yang terjadi diluar pengetahuan manusia (sejarah obyektif) dan yang terjadi sepengetahuan manusia (sejarah subyektif). Kata sejarah dalam Sejarah Nasional merujuk pada sejarah subyektif itu. Adapun ilmu sejarah atau sejarah ialah ilmu yang akan diajarkan di Jurusan Sejarah.
            Kita sering mendengar kata sejarah. Guru Sejarah, Untuk SD, sejarah dapat dibicarakan dengan pendekatan estetis. Artinya, sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa. Untuk SLTP, sejarah hendaknya diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang. Kepada anak SMA, sejarah harus diberikan secara kritis. Mereka diharapkan sudah bisa berpikir mengapa sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan kemana arah kejadian tersebut. Di tingkat universitas, sejarah diberikan secara akademis. Biasanya akan diajarkan sejarah perubahan masyarakat, supaya mahasiswa mempunyai gambaran tentang latar belakang masyarakat yang dibicarakan, mempunyai gambaran tentang kesinambungan dan perubahan, dan dapat mengantisipasi perubahan yang akan terjadi. Sejarah juga harus diibaratkan seperti orang menenun benang, sejarah harus disampaikan jalur atas-bawah, dan kolom samping ke kanan kirinya, atau dimensi waktu, atau aspek proses, dan aspek strukturnya, atau segi diakronis, dan sinkronisnya.
            Pegawai Sejarah, termasuk disini ialah para pegawai purbakala, museum dan monumen. Tugas mereka adalah menanamkan kesadaran sejarah pada masyarakat, akan tetapi tugas mereka menjadi berat karena adanya kemajuan globalisasi. Pada hari libur banyak para masyarakat yang berlibur di tempat-tempat sejarah, akan tetapi mereka datang bukan karena kesadaran sejarah, melainkan sekedar untuk berlibur dan mengisi liburan.
            Pelaku Sejarah dan Saksi Sejarah. Dalam masyarakat di mana pun, sekecil apa pun, selalu terdapat pelaku sejarah, yaitu orang secara langsung terlibat dalam pergelutan sejarah. Saksi sejarah ialah orang yang mengetahui suatu peristiwa sejarah, tetapi tidak terlibat secara langsung.
            Peneliti sejarah dan Penulis sejarah. Kelompok inilah yang dihasilkan melalui pelatihan di perguruan tinggi. Sangat disayangkan jika hasil latihan yang berupa skripsi tersebut kebanyakan tidak terbit, sehingga masyarakat luas tidak ikut menikmati hasilnya. Memang, skripsi tersebut tidak ditulis untuk memenuhi selera pasar, tetapi semata-mata dari pertimbangan akademis. Sejarah akan beruntung jika berhasil mendapat calon yang selain berbakat dalam matematika juga yang tinggi kadar imajinasinya.
Pengertian Sejarah
            Sejarah itu bukan mitos. Sama-sama menceritakan masa lalu, sejarah berbeda dengan mitos. Mitos menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas, dan kejadian yang tidak masuk akal. Mitos itu mempunyai kegunaan tersendiri, tetapi mitos bukan sejarah. Dalam mitos tidak ada penjelasan tentang kapan peristiwa tersebut terjadi, sedangkan dalam sejarah semua peristiwa secara persis diceritakan kapan terjadi.
            Sejarah bukan Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh sebagai tidak ilmiah bila berhubungan dengan filsafat, sejarah dimoralkan, dan sejarah sebagai ilmu yang konkret dapat menjadi filsafat yang abstrak. Fisafat itu abstrak dan spekulatif, dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum.
            Sejarah itu bukan Ilmu Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Dalam hukum alam, hukum-hukum beraku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu, dan suasana. Dalam sejarah kita bicara tantang revolusi.
            Sejarah itu bukan sastra. Sejarah berbeda dengan sastra setidaknya dalam empat hal: cara kerja, kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Dari cara kerja, sastra adalah pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana dimengerti olah pengarangnya. Dalam kesimpulan, bisa saja sastra justru berakhir dengan sebuah pertanyaan. Sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya, setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.
            Sebagai ilmu, sejarah terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran yang bersandar pada fakta. Hsil akhir yang diharapkan ialah kecocokan antara pemahaman sejarawan dengan fakta
            Sejarah itu ilmu tentang manusia. Sejarah hanya mengurusi manusia masa kini. Akan tetapi, manusia masa kini menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial dengan minat utamanya, seperti sosiologi, ilmu politik, dan antropologi. Lalu apa beda sejarah dengan ilmu sosial lain?
            Sejarah ialah ilmu tentang waktu. Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah itu ilmu tentang waktu. Yang dibicarakan tentang waktu antara lain: perkembangan, kesinambungan, pengulangan, dan perubahan.
            Sejarah ialah ilmu tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial.
            Sejarah ialah ilmu tentang sesuatu yang tetentu, satu-satunya, dan terperinci. Dalam hal ini sejarah berbeda dengan filsafat dan ilmu lainnya. Misalnya, sejarah akan berbicara tantang mobilitas sosial. Selanjutnya sejarah itu ilmu mengenai satu-satunya, unik, karena sejarah harus menulis peristiwa, tempat, dan waktu yang hanya sekali terjadi.
Definisi Sejarah
            Jadi apakah sejarah itu? Sejarah adalah rekonstruksi. Jangan dibayangkan bahwa membangun kembali masa lau itu untuk kepantingan masa lalu sendiri, yaitu antikuarianisme dan bukan sejarah. Juga jangan dibayangkan masa lalu yang jauh. Kata seorang sejarawan Amerika, sejarah itu ibarat orang naik kereta menghadap ke beakang, Ia dapat melihat ke belakang, ke samping, kanan, dan kiri. Satu-satunya kendala ialah ia tidak bisa melihat ke depan.
            Sedangkan sejarawan itu seperti dalang, ia dapat meminkan apa saja. Akan tetapi, ia dibatasi oleh dua hal, yaitu wayang dan lakon. Taruhlah wayang itu sebagai fakta, dan lakon sebagai tema yang dipiih sejarawan. Apa yang direkonstruksi sejarah? Ialah apa saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh orang. Sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut sejarah.

(Sumber: Buku Pengantar Ilmu Sejarah, Prof. Dr. Kuntowijoyo, Bentang Pustaka 2005)

0 komentar:

Posting Komentar