KONSEP-KONSEP
ILMU SEJARAH
Biasanya kita merasa
sudah mengerti penggunaan kata sejarah. Apa yang sudah terjadi, semuanya kita
anggap sebagai sejarah. Padahal apa yang sudah terjadi atau sejarah itu dua
macam, yaitu yang terjadi diluar pengetahuan manusia (sejarah obyektif) dan yang
terjadi sepengetahuan manusia (sejarah subyektif). Kata sejarah dalam Sejarah
Nasional merujuk pada sejarah subyektif itu. Adapun ilmu sejarah atau sejarah
ialah ilmu yang akan diajarkan di Jurusan Sejarah.
Kita sering mendengar
kata sejarah. Guru Sejarah, Untuk SD, sejarah dapat dibicarakan dengan
pendekatan estetis. Artinya, sejarah diberikan semata-mata untuk menanamkan
rasa cinta kepada perjuangan, pahlawan, tanah air, dan bangsa. Untuk SLTP,
sejarah hendaknya diberikan dengan pendekatan etis. Kepada siswa harus
ditanamkan pengertian bahwa mereka hidup bersama orang, masyarakat, dan
kebudayaan lain, baik yang dulu maupun yang sekarang. Kepada anak SMA, sejarah
harus diberikan secara kritis. Mereka diharapkan sudah bisa berpikir mengapa
sesuatu terjadi, apa sebenarnya yang telah terjadi, dan kemana arah kejadian
tersebut. Di tingkat universitas, sejarah diberikan secara akademis. Biasanya
akan diajarkan sejarah perubahan masyarakat, supaya mahasiswa mempunyai
gambaran tentang latar belakang masyarakat yang dibicarakan, mempunyai gambaran
tentang kesinambungan dan perubahan, dan dapat mengantisipasi perubahan yang
akan terjadi. Sejarah juga harus diibaratkan seperti orang menenun benang,
sejarah harus disampaikan jalur atas-bawah, dan kolom samping ke kanan kirinya,
atau dimensi waktu, atau aspek proses, dan aspek strukturnya, atau segi
diakronis, dan sinkronisnya.
Pegawai Sejarah,
termasuk disini ialah para pegawai purbakala, museum dan monumen. Tugas mereka
adalah menanamkan kesadaran sejarah pada masyarakat, akan tetapi tugas mereka
menjadi berat karena adanya kemajuan globalisasi. Pada hari libur banyak para
masyarakat yang berlibur di tempat-tempat sejarah, akan tetapi mereka datang
bukan karena kesadaran sejarah, melainkan sekedar untuk berlibur dan mengisi
liburan.
Pelaku Sejarah dan
Saksi Sejarah. Dalam masyarakat di mana pun, sekecil apa pun, selalu terdapat
pelaku sejarah, yaitu orang secara langsung terlibat dalam pergelutan sejarah.
Saksi sejarah ialah orang yang mengetahui suatu peristiwa sejarah, tetapi tidak
terlibat secara langsung.
Peneliti sejarah dan
Penulis sejarah. Kelompok inilah yang dihasilkan melalui pelatihan di perguruan
tinggi. Sangat disayangkan jika hasil latihan yang berupa skripsi tersebut
kebanyakan tidak terbit, sehingga masyarakat luas tidak ikut menikmati
hasilnya. Memang, skripsi tersebut tidak ditulis untuk memenuhi selera pasar,
tetapi semata-mata dari pertimbangan akademis. Sejarah akan beruntung jika
berhasil mendapat calon yang selain berbakat dalam matematika juga yang tinggi
kadar imajinasinya.
Pengertian Sejarah
Sejarah itu bukan
mitos. Sama-sama menceritakan masa lalu, sejarah berbeda dengan mitos. Mitos
menceritakan masa lalu dengan waktu yang tidak jelas, dan kejadian yang tidak
masuk akal. Mitos itu mempunyai kegunaan tersendiri, tetapi mitos bukan
sejarah. Dalam mitos tidak ada penjelasan tentang kapan peristiwa tersebut
terjadi, sedangkan dalam sejarah semua peristiwa secara persis diceritakan
kapan terjadi.
Sejarah bukan
Filsafat. Sejarah sebagai ilmu dapat terjatuh sebagai tidak ilmiah bila
berhubungan dengan filsafat, sejarah dimoralkan, dan sejarah sebagai ilmu yang
konkret dapat menjadi filsafat yang abstrak. Fisafat itu abstrak dan
spekulatif, dalam arti filsafat hanya berurusan dengan pikiran umum.
Sejarah itu bukan Ilmu
Alam. Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Dalam hukum alam,
hukum-hukum beraku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu, dan
suasana. Dalam sejarah kita bicara tantang revolusi.
Sejarah itu bukan
sastra. Sejarah berbeda dengan sastra setidaknya dalam empat hal: cara kerja,
kebenaran, hasil keseluruhan, dan kesimpulan. Dari cara kerja, sastra adalah
pekerjaan imajinasi yang lahir dari kehidupan sebagaimana dimengerti olah
pengarangnya. Dalam kesimpulan, bisa saja sastra justru berakhir dengan sebuah
pertanyaan. Sejarah harus berusaha memberikan informasi selengkap-lengkapnya,
setuntas-tuntasnya, dan sejelas-jelasnya.
Sebagai ilmu, sejarah
terikat pada prosedur penelitian ilmiah. Sejarah juga terikat pada penalaran
yang bersandar pada fakta. Hsil akhir yang diharapkan ialah kecocokan antara
pemahaman sejarawan dengan fakta
Sejarah itu ilmu
tentang manusia. Sejarah hanya mengurusi manusia masa kini. Akan tetapi,
manusia masa kini menjadi objek bersama-sama beberapa ilmu sosial dengan minat
utamanya, seperti sosiologi, ilmu politik, dan antropologi. Lalu apa beda
sejarah dengan ilmu sosial lain?
Sejarah ialah ilmu
tentang waktu. Sejarah membicarakan masyarakat dari segi waktu, jadi sejarah
itu ilmu tentang waktu. Yang dibicarakan tentang waktu antara lain: perkembangan,
kesinambungan, pengulangan, dan perubahan.
Sejarah ialah ilmu
tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial.
Sejarah ialah ilmu
tentang sesuatu yang tetentu, satu-satunya, dan terperinci. Dalam hal ini
sejarah berbeda dengan filsafat dan ilmu lainnya. Misalnya, sejarah akan
berbicara tantang mobilitas sosial. Selanjutnya sejarah itu ilmu mengenai
satu-satunya, unik, karena sejarah harus menulis peristiwa, tempat, dan waktu
yang hanya sekali terjadi.
Definisi Sejarah
Jadi apakah sejarah
itu? Sejarah adalah rekonstruksi. Jangan dibayangkan bahwa membangun kembali
masa lau itu untuk kepantingan masa lalu sendiri, yaitu antikuarianisme dan
bukan sejarah. Juga jangan dibayangkan masa lalu yang jauh. Kata seorang
sejarawan Amerika, sejarah itu ibarat orang naik kereta menghadap ke beakang,
Ia dapat melihat ke belakang, ke samping, kanan, dan kiri. Satu-satunya kendala
ialah ia tidak bisa melihat ke depan.
Sedangkan sejarawan
itu seperti dalang, ia dapat meminkan apa saja. Akan tetapi, ia dibatasi oleh
dua hal, yaitu wayang dan lakon. Taruhlah wayang itu sebagai fakta, dan lakon
sebagai tema yang dipiih sejarawan. Apa yang direkonstruksi sejarah? Ialah apa
saja yang sudah dipikirkan, dikatakan, dikerjakan, dirasakan, dan dialami oleh
orang. Sejarawan dapat menulis apa saja, asal memenuhi syarat untuk disebut
sejarah.
(Sumber: Buku Pengantar Ilmu Sejarah, Prof. Dr.
Kuntowijoyo, Bentang Pustaka 2005)








0 komentar:
Posting Komentar